Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan." Arthur Schopenhauer (1788-1860), filsuf Jerman
Rabu, 26 Agustus 2009
hinaan
"Jika orang lain menghina Anda, Anda mungkin melupakan penghinaan itu; tapi jika Anda menghina orang lain, Anda akan selalu mengingatnya." Kahlil Gibran (1883-1931), penyair kelahiran Lebanon
Selasa, 25 Agustus 2009
yang terbaik
"Hal terbaik untuk diberikan kepada musuhmu adalah ampunan; kepada lawan, toleransi; teman, hatimu; anak Anda, contoh yang baik; ayah, rasa hormat; ibumu, kebanggaan; diri sendiri, kehormatan; umat manusia, amal." Benjamin Franklin, negarawan, ilmuwan, filsuf, penulis, dan penemu asal Amerika Serikat (1706-1790)
.jpg)
Sinopsis
Back to Top
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.
"Kisah inspiratif dengan selipan humor khas pondok. Jarang ada novel yang bercerita tentang apa yang terjadi di balik sebuah pondok yang penuh teka-teki. Buku ini sarat dengan vitamin bagi jiwa kita."
---Andy Noya, host talkshow KickAndy
"Novel yang berkisah tentang generasi muda bangsa ini penuh motivasi, bakat, semangat, dan optimisme untuk maju dan tidak kenal menyerah, merupakan pelajaran yang amat berharga bukan saja sebagai karya seni, tetapi juga tentang proses pendidikan dan pembudayaan untuk terciptanya sumberdaya insani yang handal. Andaikan banyak anak bangsa yang mempunyai kesempatan dan pengalaman seperti mereka, akan beruntunglah bangsa Indonesia dalam mewujudkan masa depannya yang maju dan sejahtera, yang disegani dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain."
---BJ Habibie, Mantan Presiden RI
"Membaca buku ini, seperti bangkitnya sastrawan besar masa lalu dari Ranah Minang. Tapi kali ini nuansanya semakin luas dan mengglobal tak sebatas nusantara, apalagi terbatas pada tradisi kultural Minangkabau. Ada hal yang baru dan menarik bagi saya sebagai Gubernur, bahwa betapapun luasnya pergaulan dan modernnya peradaban yang dimasuki kehidupan anak manusia, dia tak dapat melepaskan diri sama sekali dari akar kultural yang dimilikinya. Ini sebuah kehidupan dan model baru karya sastra "anak" Minang masa kini yang berbeda dengan masa lalu, ketika Rantau masih terbatas wilayahnya. Semoga tulisan ini menjadi bahan kajian sastra modern di tanah air kita."
---Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat
"Demonstrasi yang indah tentang kekuatan ikhlas dan "kesengajaan" prasangka baik kepada Tuhan. Rumus proses belajar yang jitu: yaitu murid ikhlas diajar, guru ikhlas mengajar. Hasilnya secara tidak disangka-sangka, terbuka lebarlah pintu hikmah dan pintu dunia akhirat. Beranilah bermimpi dan berharap karena Tuhan Maha Mendengar. Novel yang sangat saya anjurkan untuk dibaca dan direnungkan..." "Ditulis "menggunakan kata" hati, sehingga terasa menyentuh hati. Ditengah semua pergumulan hidup, akhirnya keikhlasan yang putih akan selalu memenangkan dunia dan akhirat. Bacalah dan ambillah hikmahnya.."
---Erbe Sentanu, Penulis Buku Quantum Ikhlas, Pelopor Industri Kesadaran di Indonesia.
"Masa remaja selalu meninggalkan bekas yang kuat, penuh nostalgia. Ahmad Fuadi mengolah nostalgia menjadi novel yang menyentuh, sekaligus menjadi diskusi kritis sekaligus simpatik tentang pendidikan kehidupan. Negeri Lima Menara adalah kisah enam anak muda berbeda warna menembus pendidikan pesantren menuju dunia, sebuah kisah yang menggelitik... "
Selasa, 21 Juli 2009
dan.
"Aku dengar lalu aku lupa. Aku lihat lalu aku ingat. Aku lakukan lalu aku mengerti." Confucius (551 SM - 479 SM), Filsuf China
Sabtu, 18 Juli 2009
pemimpin
"Seorang pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, melewati jalan tersebut, dan menunjukkan jalan itu untuk orang lain." John C Maxwell, pengusaha sekaligus pakar motivasi dari Amerika Serikat
Senin, 13 Juli 2009
belajar
"Pelajarilah semua hal yang Anda bisa, kapan pun, dan dari siapa pun. Pasti akan tiba waktunya Anda memetik buah dari apa yang Anda kerjakan." Sarah Caldwell (1924 -2006), konduktor opera asal Amerika Serikat
Rabu, 01 Juli 2009
buku
"Buku harus dijadikan kapak untuk mencairkan lautan beku dalam diri kita." Franz Kafka (1883-1924), penulis Austria kelahiran Cekoslowakia
Rabu, 24 Juni 2009
mintalah lewat telinga kanan

ROMA, KOMPAS.com-Para peneliti mengatakan jika Anda ingin seseorang berbuat sesuatu, minta lewat telinga kanan.
Para peneliti Italia menemukan bahwa orang lebih bagus memproses informasi jika permintaan diajukan lewat kuping kanan dalam tiga kali uji coba terpisah.
Mereka meyakini hal itu disebabkan karena sisi kiri otak, yang memang lebih baik dalam memproses permintaan, menerima informasi dari kuping kanan. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal online Naturwissenschaffen.
Dalam penelitian pertama, 286 pengunjung klub dansa diamati saat berbincang sementara musik keras dimainkan. Secara keseluruhan 72 persen interaksi terjadi di sisi kanan pendengaran.
Dalam penelitian kedua, peneliti mendekati 160 pengunjuk klub musik, membisikkan kata-kata yang tak bermakna dan menunggu sampel menolehkan kepala untuk menawarkan kuping kiri atau kanan. Mereka kemudian meminta sebatang rokok. Secara keseluruhan 58% menawarkan kuping kanan kepada peneliti dan 42% menawarkan kuping kiri.
Dalam penelitian ketiga, para peneliti dengan sengaja berbicara ke 176 pengunjung klub musik lewat kuping kanan atau kuping kiri saat meminta rokok. Para peneliti yang berbicara ke kuping kanan mendapat lebih banyak rokok dari sebaliknya.
Para peneliti berkesimpulan: "Berbicara ke kuping kanan berarti Anda mengirim kata-kata ke bagian otak yang agak lebih sensitif. "Kesimpulan ini tampaknya sejalan dengan hipotesa mengenai spesialisasi bagian otak kanan dan kiri."
Professor Shopie Scott dari Institut Ilmu syaraf Cognitif di Universitas College London sepakat dengan kesimpulan itu. "Sebagian besar orang memproses perkataan dan bahasa di bagian kiri otak dan meski tidak selalu begitu, yang terjadi di telinga kanan diproses oleh sisi kiri otak.
Selasa, 23 Juni 2009
pendidikan
"Pendidikan bisa memberi Anda keahlian, tetapi pendidikan budaya mampu memberi Anda martabat." Ellen Key (1849-1926), penulis Swedia
sopan
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis; meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." Otto von Bismarck (1815-1898), perdana menteri PrusiaÃÂ
Senin, 22 Juni 2009
karena
Karena sering yakin akan bangun lagi
Aku lebih sering tertidur daripada tidur
Padahal tidur pun adalah kebajikan bila diniatkan
Karena tak tahu kapan datangnya ajal
Hampir tak pernah kutulis dan kuucapkan wasiat
Padahal utang dan janjiku pun tak hanya satu dua
Karena kedua perekam itu tak terlihat
Bagitu nikmatnya kubicarakan kejelekan orang lain
Padahal suara hati pun terekam oleh keduanya
Karena tidak melakukan dosa besar
Sering aku merasa tak memiliki dosa besar
Padahal kumpulan dosa kecilku
Menjadi dosa-dosa besar
Karena ibadah wajib sudah kukerjakan
Sering kumerasa amal kebajikanku sudah cukup
Padahal tak ada jaminan kualitas atas hal itu
Karena kemalangan itu pedih dan anugrah itu nikmat
tentu kupilih anugrah dan kutolak kemalangan
padahal ada tiadanya bukan aku yang mencipta
Karena kematian belum menghampiriku
Sedikit yang kuperbuat untuk menghadapinya
Padahal ketika itu keputusasaan pun tak ada guna
Karena manusia bisa beralasan
Beribu 'karena' terucap dan dipersiapkan
Padahal kelak itu pun tak bisa dijadikan alasan.
Aku lebih sering tertidur daripada tidur
Padahal tidur pun adalah kebajikan bila diniatkan
Karena tak tahu kapan datangnya ajal
Hampir tak pernah kutulis dan kuucapkan wasiat
Padahal utang dan janjiku pun tak hanya satu dua
Karena kedua perekam itu tak terlihat
Bagitu nikmatnya kubicarakan kejelekan orang lain
Padahal suara hati pun terekam oleh keduanya
Karena tidak melakukan dosa besar
Sering aku merasa tak memiliki dosa besar
Padahal kumpulan dosa kecilku
Menjadi dosa-dosa besar
Karena ibadah wajib sudah kukerjakan
Sering kumerasa amal kebajikanku sudah cukup
Padahal tak ada jaminan kualitas atas hal itu
Karena kemalangan itu pedih dan anugrah itu nikmat
tentu kupilih anugrah dan kutolak kemalangan
padahal ada tiadanya bukan aku yang mencipta
Karena kematian belum menghampiriku
Sedikit yang kuperbuat untuk menghadapinya
Padahal ketika itu keputusasaan pun tak ada guna
Karena manusia bisa beralasan
Beribu 'karena' terucap dan dipersiapkan
Padahal kelak itu pun tak bisa dijadikan alasan.
Minggu, 21 Juni 2009
sukses...
"Sukses adalah kemampuan untuk pergi dari suatu kegagalan tanpa kehilangan semangat." Sir Winston Churchill, mantan PM Inggris
Kamis, 18 Juni 2009
gila
"Selalu ada beberapa kegilaan dalam cinta, tapi selalu pula ada beberapa alasan pada kegilaan." Friedrich Nietzsche Filsuf Jerman
Rabu, 17 Juni 2009
Hobi aneh para pemimpin dunia
TENTUNYA bukan hanya Presiden Prancis Nicolas Sarkozy yang dianggap punya hobi aneh dengan mengoleksi prangko. Di Amerika Serikat (AS), setidaknya ada beberapa mantan presiden yang punya hobi lebih aneh dari sekadar mengoleksi prangko,dari sekadar menikmati arsitektur hingga arkeologi, mengemudi sambil mabuk, sampai menonton burung. Ada semua.
Presiden ke-42 AS, Bill Clinton, dikenal memiliki hobi memainkan saksofon. Saat berkampanye pada 1992, dia muncul di Arsenio Hall dan memainkan Heartbreak Hotel. Tapi, tahukah Anda jika suami Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ini ternyata juga sangat menggemari mengisi teka teki silang kata? Dia bahkan menuliskan tipsnya untuk koran New York Times.
Clinton juga dikabarkan menjadi pesaing hebat dalam permainan biliar Kantor March Madness.
Mantan Presiden AS yang lain juga tak kalah anehnya. Thomas Jefferson, yang kondang karena menulis Deklarasi Kemerdekaan saat berusia 33 tahun, setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, mendirikan University of Virginia dan mendesain Gedung UVA serta Gedung Capitol Negara Bagian Virginia di Richmond.
Dia bahkan menggeluti hobi dalam bidang arkeologi, menulis, membuat anggur, memasak, dan desain industri. John Quincy Adams boleh kondang karena membantu memformulasikan Doktrin Monroe dan melawan perluasan perbudakan, tapi pada pagi hari Presiden AS di awal abad 19 itu dapat dengan mudah ditemukan sedang berenang tanpa busana di Sungai Potomac.
Sedangkan Lyndon B Johnson punya hobi betul-betul nyeleneh. Dia gemar sekali mengemudi sambil mabuk dengan berbagai macam mobil, termasuk sebuah kendaraan amfibi. Hampir serupa dengan Johnson,Andrew Jackson, Presiden AS pada era 1829?1837 juga punya hobi minum sampai mabuk dan sering mengundang rekannya untuk mabuk bersama di Gedung Putih.
Menurut Forbes, dia juga disebut menikmati judi dan balapan kuda. Sementara itu, mantan Presiden AS satu ini memang punya hobi yang sama sekali tidak pantas bagi seorang pemimpin negara.
Calvin Coolidge, yang menjabat presiden pada 1923-1929 ini, punya hobi tidur siang selama dua jam tiap hari setelah makan siang.Akibat hobinya itu, dia sering kali tidak mampu menginisiatifi program federal karena tertidur.
Presiden AS sekarang Barack Obama disebut punya hobi memasak, main basket, dan berdansa. Lantas bagaimana dengan pendahulunya, George W Bush? Belum diketahui apa hobinya setelah tidak lagi menjabat presiden. Namun, situs Socyberty mengatakan, Bush sangat suka memancing dan jogging.
Di belahan lain di dunia ini, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, setelah tak lagi menjabat perdana menteri, seringkali menghabiskan waktu luangnya untuk menonton opera. Sedangkan Perdana Menteri Rusia, yang dulu pernah menjabat presiden,Vladimir Putin mencoba-coba melukis.
Salah satu karya Putin bahkan pernah terjual hingga USD1,1 juta (sekitar Rp13,5 miliar) dalam sebuah lelang amal.Menurut Forbes, Putin menghabiskan waktu 20 menit untuk melukis sketsa lukisan itu sebelum menyerahkannya kepada seorang seniman profesional untuk penyelesaiannya.
Presiden ke-42 AS, Bill Clinton, dikenal memiliki hobi memainkan saksofon. Saat berkampanye pada 1992, dia muncul di Arsenio Hall dan memainkan Heartbreak Hotel. Tapi, tahukah Anda jika suami Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ini ternyata juga sangat menggemari mengisi teka teki silang kata? Dia bahkan menuliskan tipsnya untuk koran New York Times.
Clinton juga dikabarkan menjadi pesaing hebat dalam permainan biliar Kantor March Madness.
Mantan Presiden AS yang lain juga tak kalah anehnya. Thomas Jefferson, yang kondang karena menulis Deklarasi Kemerdekaan saat berusia 33 tahun, setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, mendirikan University of Virginia dan mendesain Gedung UVA serta Gedung Capitol Negara Bagian Virginia di Richmond.
Dia bahkan menggeluti hobi dalam bidang arkeologi, menulis, membuat anggur, memasak, dan desain industri. John Quincy Adams boleh kondang karena membantu memformulasikan Doktrin Monroe dan melawan perluasan perbudakan, tapi pada pagi hari Presiden AS di awal abad 19 itu dapat dengan mudah ditemukan sedang berenang tanpa busana di Sungai Potomac.
Sedangkan Lyndon B Johnson punya hobi betul-betul nyeleneh. Dia gemar sekali mengemudi sambil mabuk dengan berbagai macam mobil, termasuk sebuah kendaraan amfibi. Hampir serupa dengan Johnson,Andrew Jackson, Presiden AS pada era 1829?1837 juga punya hobi minum sampai mabuk dan sering mengundang rekannya untuk mabuk bersama di Gedung Putih.
Menurut Forbes, dia juga disebut menikmati judi dan balapan kuda. Sementara itu, mantan Presiden AS satu ini memang punya hobi yang sama sekali tidak pantas bagi seorang pemimpin negara.
Calvin Coolidge, yang menjabat presiden pada 1923-1929 ini, punya hobi tidur siang selama dua jam tiap hari setelah makan siang.Akibat hobinya itu, dia sering kali tidak mampu menginisiatifi program federal karena tertidur.
Presiden AS sekarang Barack Obama disebut punya hobi memasak, main basket, dan berdansa. Lantas bagaimana dengan pendahulunya, George W Bush? Belum diketahui apa hobinya setelah tidak lagi menjabat presiden. Namun, situs Socyberty mengatakan, Bush sangat suka memancing dan jogging.
Di belahan lain di dunia ini, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, setelah tak lagi menjabat perdana menteri, seringkali menghabiskan waktu luangnya untuk menonton opera. Sedangkan Perdana Menteri Rusia, yang dulu pernah menjabat presiden,Vladimir Putin mencoba-coba melukis.
Salah satu karya Putin bahkan pernah terjual hingga USD1,1 juta (sekitar Rp13,5 miliar) dalam sebuah lelang amal.Menurut Forbes, Putin menghabiskan waktu 20 menit untuk melukis sketsa lukisan itu sebelum menyerahkannya kepada seorang seniman profesional untuk penyelesaiannya.
hidup dan mati
"Pada saat saya berpikir bahwa saya telah belajar bagaimana hidup, sebenarnya saya telah belajar cara untuk mati." Leonardo da Vinci, seniman Italia hidup
Senin, 15 Juni 2009
pedidikan
"Tujuan besar dari pendidikan bukan pengetahuan, tapi tindakan (aksi)." Herbert Spencer, filsuf Inggris
Minggu, 14 Juni 2009
mimpi
"Tidak benar jika dikatakan orang berhenti mengejar mimpi karena mereka sudah tua. Yang benar orang-orang itu menjadi tua justru karena mereka berhenti mengejar mimpi-mimpi itu." Gabriel Garcia Marquez, novelis terkemuka Kolombia, peraih Nobel Sastra 1982
Sabtu, 13 Juni 2009
Ibu....

Suatu sore, seorang anak mengahampiri ibunya di dapur
Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisnya
Setelah sang ibu mengeringkan tanganya dengan celenek
Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya :
Untuk memotong rumput Rp.2000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp.1000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp.500
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp.500
Untuk mebuang sampah Rp.1000
Untuk nilai yang bagus Rp.3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp.500
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp.8.500
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap
Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu
Lalu ia mengambil pulpen, membalikan kertasnya
Dan inilah yang ia tulis :
Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Mengobati kamu dan mendoakan kamu , gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan ,dan baju, gratis
Anakku...dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya
Sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya
Dan berkata ."Bu, aku sayang sekali sama ibu"
Kemudian ia mengambill pulpen
Dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar :"LUNAS"
ku cinta
Renungan ku....
Tuhan...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-MU
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan...
Jika aku mesti mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-MU
Agar bertambah kuat cintaku pada-MU
Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-MU
Tuhan...
Ketika aku berucap 'aku cinta padamu'
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-MU
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-MU
Sebagaimana orang bijak berucap....
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya..
.......
Tuhan...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-MU
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan...
Jika aku mesti mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-MU
Agar bertambah kuat cintaku pada-MU
Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-MU
Tuhan...
Ketika aku berucap 'aku cinta padamu'
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-MU
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-MU
Sebagaimana orang bijak berucap....
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya..
.......
bicara
"Orang bijak berbicara karena mereka mempunyai sesuatu untuk dikatakan, orang bodoh berbicara karena mereka ingin mengatakan sesuatu." Plato (428-348 SM), filsuf Yunani Kuno
mengajari
"Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri." Galileo Galilei, filsuf dan ilmuwan peletak dasar metode ilmiah asal Italia (1564-1642)
Kamis, 11 Juni 2009
GARUDA di dadaku

GARUDA DI DADAKU
PRODUSER: Shanty Harmayn, SUTRADARA: Ifa Isfansyah, PENULIS SKENARIO: Salman Aristo, PEMAIN: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Maudi Koesnaedi, Ikranagara, Ari Sihasale dan Ramzi
Film yang menginspirasi, memberi ruang pada kita untuk bercermin dan memaknai hidup dari sudut pandang anak-anak. Wajib ditonton, tak hanya bagi anak-anak, tapi juga mereka yang dewasa.
Impian itu datang dari Bayu (Emir Mahira), seorang bocah kelas 6 SD yang bermimpi menjadi anggota tim nasional sepak bola U-13 tahun. Dalam benaknya, betapa bangganya ia, ibu dan kakeknya, ketika melihatnya menjadi wakil dari jutaan anak Indonesia berlaga di arena sepak bola sambil mengenakan kaos berlambang garuda di dadanya. Adakah mimpinya itu bisa terbeli?
Sayang! Keinginannya itu justru berbanding terbalik dengan ambisi sang kakek, Usman (Ikranagara). Bagi Usman, kelak, cucunya harus menjadi seorang seniman bergengsi. Sepak Bola bukanlah tempat yang layak buat cucunya. Ia lantas memasukan Bayu ke sejumlah kegiatan les, yang diyakininya cocok buat cucu kesayangannya itu. Dari mulai les musik lah hingga melukis.
Tapi begitulah, apapun yang dilakukan tanpa didasari cinta, hanyalah sebuah ilusi. Cinta mati Bayu justru pada sepak bola. Sebuah dunia yang diperkenalkan mendiang ayahnya, saat ia masih hidup.
Tapi Usman tak mau itu terjadi. Haram bagi cucunya untuk mencintai sepak bola. Dunia, yang menurut Usman, terasa hina. Di Indonesia, sepak bola bukanlah tempat yang bisa memberikan janji. "Pemain bola itu tidak bermutu. Tidak elite. Apalagi di Indonesia, jadi penonton saja bisa mati!" seru Usman kepada cucunya. "Sekali lagi kamu ngomong bola, kamu bukan cucu aku lagi!" ancamnya saat Usman mengetahui anaknya bersinggungan lagi dengan bola.
Konflik inilah yang kemudian meluncur apik. Terjaga dari awal hingga ujung kisah. Ya, Bayu bukanlah tipe anak loyo, yang gampang menyerah. Keinginan besarnya telah meruntuhkan ambisi sang kakek. Di hadapan sang kakek, ia bak anak yang penurut, tapi di balik itu, ia justru melakukan sebuah pemberontakan.
Adalah Heri (Aldo Tansani), sahabatnya, yang meyakini bakat kuat yang dimiliki Bayu. Heri lah yang mendorong Bayu untuk "berselingkuh" dari kegiatan les yang dijalaninya. Heri jugalah yang setia memfasilitasi semua kebutuhan Bayu untuk mencapai mimpinya.
Beralih sejenak kepada sosok Heri. Kehadirannya juga menjadi bagian yang menarik dan tak bisa dianggap enteng. Penulis skenario Salman Aristo memberi porsi lebih kepada sosoknya.
Heri digambarkan sebagai anak yang unik. Dia cerdas, punya semangat yang tinggi dan motivator ulung meski memiliki keterbatasan fisik. Bersama Bayu, ia menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Bagi Heri, kecintaannya pada dunia sepak bola, tak bisa terlampiaskan lantaran kakinya lumpuh. Namun, dari sosok Bayu lah, ia melihat kekuatan itu. Klop! Inilah sebuah kisah persahabatan yang manis. Mereka saling mengisi meski datang dari latar belakang yang berbeda pula.
Pada akhirnya, menyaksikan film layar lebar perdana sutradara Ifa Isfansyah, kita digiring kembali untuk memaknai sejumlah nilai-nilai hidup, yang boleh jadi, telah dilupakan oleh kebanyakan orang, tak terkecuali saya, juga anda.
Sosok Usman, yang cenderung bersikap kolot dan cenderung memaksakan kehendaknya kepada cucunya, menjadi gambaran dari diri kita, yang kadang menuntut banyak dari anak-anak. Atas nama kebaikan, orang tua kerap memaksakan kehendaknya sendiri. Ia lupa bahwa anak-anak juga punya kehidupan sendiri, yang berhak untuk bisa memilih.
Ini pula yang berlaku kepada sosok Zahra (Marsha Aruan), bocah perempuan yang misterius. Ia terjebak di antara kehidupan keluarga yang berantakan. Ia dibawa kabur ayahnya dan memilih menetap di sebuah gubuk reyot di sebuah kawasan kuburan tua. Padahal Zahra masih punya mimpi untuk bisa sekolah. Meski begitu ia tetap tabah.
Garuda Di Dadaku, menyajikan sebuah cerita yang sederhana namun bernas. Mengisahkan pertarungan dua kepentingan antara dua generasi. Olahraga sepakbola, menjadi cantolan untuk mengaitkan tema besar tersebut. Diramu dengan begitu apik. Didukung permainan yang gemilang, plot cerita yang matang, cinematografi dan editing yang terjaga. Hasilnya? Garuda Di Dadaku tak ubahnya sebuah masakan yang racikan bumbunya terasa pas. Ada haru, kadang juga tawa. Pada bagian ini, apresiasi, lagi-lagi layak diberikan kepada Ramzi, yang kali ini berperan sebagai Bang Duloh.
Suntikan kekuatan juga datang dari soundtrack film, yang begitu penuh warna dihadirkan pasangan suami istri penata musik Aksan Sjuman dan Titi Sjuman. Music Score yang mereka hadirkan membawa penontonnya pada suasana batin yang riuh. Hal ini makin terasa dihadirkan lewat agu Garuda Di Dadaku, yang notasinya mengambil lagu daerah asal Papua, Apuse, yang diaransemen dan dibawakan grup rock Netral. Ia berhasil membangun suasana yang terasa bergelora mengiringi semangat Bayu dalam menggapai mimpinya.
Rabu, 10 Juni 2009
pidato Obama di Mesir
5 Juni 2009 PIDATO PRESIDEN BARACK OBAMA
PERMULAAN YANG BARU
Kairo, MesirEnglishKairo, 4 Juni
Terima
kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang
tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa.
Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak
pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah
menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan
antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda,
dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.Kita
bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga
Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan
bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme
yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang
Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim
diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam. Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di
kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya
berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil
telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan ,
kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang
perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik
ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan
kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri. Saya
datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan
Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling
menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam
tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak
bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan
dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia. Saya menyadari
perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan
terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa
curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat
siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit
yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa
melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama
lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya
diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus
untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar
satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana
kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan bicaralah
selalu tentang kebenaran.” Ini yang akan saya lakukan hari ini – berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita. Sebagian
dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut
Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan
mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja
di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan
martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam. Sebagai
pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar
terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas
Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka
jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah
inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar;
kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan
percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta
pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang
megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang
tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun
dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan
sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan
perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal
yang mungkin.
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika.
Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat
menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami
John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter
bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.” Dan
sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya
Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan,
bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di
perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga
kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang
tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga
Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini,
ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al
Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas
Jefferson – di perpustakaan pribadinya. Jadi
saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat
agama ini pertama kali diturunkan.. Pengalaman tersebut memandu
keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus
didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam.
Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai
Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang
Islam di mana pun munculnya. Tapi
prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika.
Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah,
Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki
kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber
kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi
melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua
orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang
selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut –
di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk
oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi
pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: “Dari banyak menjadi satu”. Banyak dikatakan menyangkut
fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein
Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah
sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud
bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang
datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika
di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih
tinggi dari rata-rata. Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan
agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami,
dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya
pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita
dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang
mengingkarinya. Jadi
janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya
percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas
dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi
yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh
pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga
kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang
sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan. Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal
dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat
memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak
berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan
pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan
bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua. Karena
kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem
keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan.
Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika
satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua
negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu
rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi
bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur
dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya
berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu
sama lain sebagai umat manusia. Dan
ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia
telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu
sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti
itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan
kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok
orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa
pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap
olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan;
kemajuan harus dibagi bersama. Itu
tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru
yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi
ketegangan-ketegang an ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya
akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik
yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama. Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud. Di
Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak
akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak
lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius
keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua
orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak
yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai
Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.Situasi
di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan
kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat
mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas.
Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena
perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan
peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida
membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria,
wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak
negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi
Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian
atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka
untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki
tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan
mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang
harus dihadapi. Janganlah
salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami
tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan
bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami.
Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini.
Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami
bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan
Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa
mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang. Itulah
sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya
besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang
seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah
membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam
agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim.
Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia,
kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran
mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia
seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan
satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah
yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada
kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah
dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian
penting dari penggalakkan perdamaian. Kami
juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di
Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam
investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke
depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah
sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka
yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan
lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun
ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kini
saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan,
Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan
perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya
percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam
Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah
mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan
membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun
memungkinkan. Kita
bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami,
Thomas Jefferson, yang mengatakan: “Saya berharap kebijakan kita akan
bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa
semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar
kekuatan itu.” Hari
ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak
membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke
tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami
tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik
teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan
mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan
brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu
sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak
yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari
kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara
kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara
Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang
aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung. Dan
akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi
kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan
prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi
negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami,
tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan
dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah
konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik
penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan
penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan. Jadi
Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa
dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan
masyarakat-masyarak at Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum
ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarak at Muslim,
semakin cepat kita semua akan menjadi selamat. Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab. Ikatan
yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini
tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan
sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi
berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari. Di
seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan
anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak
pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang
menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak,
disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta
orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di
Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar,
bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau
mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah
dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak
umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di
kawasan ini. Di
sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang
Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan
memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah
merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu
di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga
untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka
jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang
hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang
dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak
akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat,
kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri. Selama
beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan
aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang
membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat
Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara
Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan
serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang
sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari
satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran:
satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui
dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup
dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan) Ini
adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan
Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil
ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk
tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut
Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi
mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita. Warga
Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan
pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad,
rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak
dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan
kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah
tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang
merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan
oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa
Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang
sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah
sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke
anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam
bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan
cara untuk menghilangkannya. Kini
waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang
bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan
untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya.
Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi
mereka juga punya tanggung jawab.. Guna memainkan peran yang memenuhi
aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina,
Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu
dan mengakui hak eksistensi Israel. Secara
bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel
untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak
Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang
berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak
menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan)
Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan
melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan
pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan) Israel
harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa
hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain
menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis
kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula
halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat.
Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi
bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil
langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu. Akhirnya,
Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab
merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab
mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan
perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya.
Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat
Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara
mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus
pada masa lalu yang begitu melemahkan. Amerika
akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan
perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara
pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi
secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan
lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah
negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang benar. Terlalu
banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah
ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang
menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa
menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah
Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang
diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman
dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan
sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai
sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad
(damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan) Sumber
ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak
dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.Isu
ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik
Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian
lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang
kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan
peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara
demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam
tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil
Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam
masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran
bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini,
bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin
dibangunnya. . Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak
isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah
maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi
jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata
nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar
terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan
perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus
ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan
non-proliferasi global. Saya
memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata
sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan
negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya
saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah
dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir.
(tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses
ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung
jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu
merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua
pihak yang mematuhinya. Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi. Saya
percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara
kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk
semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan
demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi
ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan
apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara
lainnya. Tetapi
hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang
mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan
prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi
rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua
orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa
menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki
keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang
merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan
ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan
hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang;
pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya;
kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar
ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami
akan mendukungnya di mana saja. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan- pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi
yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil
melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan
patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat
dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih
dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya.
Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk
rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang
kekuasaan,Butir
ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat
mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus
hak-hak orang lain. (tepuk
tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan
untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang
kekuasaan. anda
harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda
harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat
toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda
dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa
ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama. Islam
memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita
menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya
menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di
mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini.
Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan
mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini
penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan
berbagai cara. Di
kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni
mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan
orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah
itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan)
Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim,
sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan
kekerasan yang tragis, khususnya di Irak. Kebebasan
beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus
senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya.
Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah
mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah
sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika
guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat. Juga
penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara
Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya,
dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan
Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme. Keyakinan
seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan
proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan
Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama
Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di
seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar
Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada
tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau
menyediakan bantuan bencana alam. Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan. Saya
tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa
pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya
seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat
bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak
diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana
kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur. Saya
perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata
merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan
Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya
Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara
itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan
aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah
sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas
penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf
untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan
lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan
cita-cita mereka. Saya
yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti
putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa
dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan
perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya
berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti
laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang
memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri. Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan. Saya
tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet
dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga
seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi
kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru,
tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara –
termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan.
Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan
ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita –
hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita,
tradisi kita dan keyakinan kita. Tetapi
saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada
kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan
Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya
mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam
Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa
kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis
depan inovasi dan pendidikan. Ini
penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan
pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak
bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan.
Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan
minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada
pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa
pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21.
(tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan
investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara
saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada
minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan
yang lebih luas. Dalam
pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak
bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga
mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat
Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan
di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam
pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan
menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas
mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.. Dalam
rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan
bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT
Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa
mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta
sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia. Dalam
bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru
untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas
penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar
sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat
keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta
mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program
yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan
hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen
baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu. Semua
ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung
dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan,
pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna
membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Isu-isu
yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya
tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita
cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam
rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana
rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka
sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai;
sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak
dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama. Saya
tahu ada banyak - Muslim dan non-Muslim - yang mempertanyakan apakah
kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api
perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak
ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai
peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa
perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu
banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap
dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya
secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap
kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki
kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia. Kita
semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah
apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah
belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha
berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada
masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan
manusia. Hal-hal
ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang
menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan
introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang
ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang
merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain
sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka.
Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah
keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat;
bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi.. Ini merupakan
keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap
berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya
pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini. Kita
memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan,
tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang
baru, sambil ingat pada apa yang tertulis. Kitab Suci Al Quran mengatakan, “Wahai manusia! Sesungguhnya
kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan
dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling kenal mengenal…” Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian.” Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.” Rakyat
seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan
visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih.
Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih
TAMAT
PERMULAAN YANG BARU
Kairo, MesirEnglishKairo, 4 Juni
Terima
kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang
tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa.
Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak
pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah
menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan
antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda,
dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.Kita
bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga
Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan
bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme
yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang
Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim
diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam. Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di
kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya
berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil
telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan ,
kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang
perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik
ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan
kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri. Saya
datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan
Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling
menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam
tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak
bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan
dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia. Saya menyadari
perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan
terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa
curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat
siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit
yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa
melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama
lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya
diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus
untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar
satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana
kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan bicaralah
selalu tentang kebenaran.” Ini yang akan saya lakukan hari ini – berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita. Sebagian
dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut
Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan
mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja
di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan
martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam. Sebagai
pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar
terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas
Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka
jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah
inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar;
kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan
percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta
pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang
megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang
tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun
dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan
sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan
perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal
yang mungkin.
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika.
Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat
menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami
John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter
bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.” Dan
sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya
Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan,
bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di
perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga
kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang
tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga
Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini,
ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al
Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas
Jefferson – di perpustakaan pribadinya. Jadi
saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat
agama ini pertama kali diturunkan.. Pengalaman tersebut memandu
keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus
didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam.
Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai
Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang
Islam di mana pun munculnya. Tapi
prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika.
Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah,
Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki
kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber
kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi
melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua
orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang
selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut –
di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk
oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi
pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: “Dari banyak menjadi satu”. Banyak dikatakan menyangkut
fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein
Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah
sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud
bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang
datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika
di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih
tinggi dari rata-rata. Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan
agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami,
dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya
pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita
dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang
mengingkarinya. Jadi
janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya
percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas
dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi
yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh
pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga
kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang
sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan. Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal
dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat
memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak
berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan
pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan
bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua. Karena
kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem
keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan.
Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika
satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua
negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu
rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi
bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur
dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya
berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu
sama lain sebagai umat manusia. Dan
ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia
telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu
sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti
itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan
kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok
orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa
pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap
olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan;
kemajuan harus dibagi bersama. Itu
tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru
yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi
ketegangan-ketegang an ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya
akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik
yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama. Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud. Di
Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak
akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak
lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius
keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua
orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak
yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai
Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.Situasi
di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan
kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat
mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas.
Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena
perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan
peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida
membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria,
wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak
negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi
Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian
atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka
untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki
tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan
mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang
harus dihadapi. Janganlah
salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami
tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan
bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami.
Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini.
Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami
bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan
Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa
mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang. Itulah
sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya
besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang
seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah
membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam
agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim.
Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia,
kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran
mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia
seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan
satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah
yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada
kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah
dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian
penting dari penggalakkan perdamaian. Kami
juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di
Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam
investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke
depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah
sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka
yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan
lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun
ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat. Kini
saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan,
Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan
perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya
percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam
Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah
mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan
membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun
memungkinkan. Kita
bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami,
Thomas Jefferson, yang mengatakan: “Saya berharap kebijakan kita akan
bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa
semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar
kekuatan itu.” Hari
ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak
membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke
tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami
tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik
teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan
mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan
brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu
sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak
yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari
kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara
kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara
Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang
aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung. Dan
akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi
kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan
prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi
negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami,
tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan
dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah
konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik
penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan
penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan. Jadi
Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa
dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan
masyarakat-masyarak at Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum
ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarak at Muslim,
semakin cepat kita semua akan menjadi selamat. Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab. Ikatan
yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini
tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan
sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi
berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari. Di
seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan
anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak
pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang
menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak,
disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta
orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di
Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar,
bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau
mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah
dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak
umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di
kawasan ini. Di
sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang
Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan
memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah
merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu
di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga
untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka
jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang
hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang
dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak
akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat,
kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri. Selama
beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan
aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang
membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat
Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara
Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan
serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang
sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari
satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran:
satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui
dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup
dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan) Ini
adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan
Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil
ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk
tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut
Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi
mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita. Warga
Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan
pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad,
rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak
dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan
kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah
tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang
merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan
oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa
Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang
sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah
sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke
anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam
bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan
cara untuk menghilangkannya. Kini
waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang
bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan
untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya.
Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi
mereka juga punya tanggung jawab.. Guna memainkan peran yang memenuhi
aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina,
Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu
dan mengakui hak eksistensi Israel. Secara
bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel
untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak
Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang
berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak
menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan)
Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan
melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan
pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan) Israel
harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa
hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain
menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis
kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula
halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat.
Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi
bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil
langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu. Akhirnya,
Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab
merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab
mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan
perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya.
Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat
Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara
mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus
pada masa lalu yang begitu melemahkan. Amerika
akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan
perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara
pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi
secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan
lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah
negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang benar. Terlalu
banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah
ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang
menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa
menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah
Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang
diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman
dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan
sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai
sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad
(damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan) Sumber
ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak
dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.Isu
ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik
Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian
lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang
kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan
peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara
demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam
tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil
Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam
masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran
bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini,
bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin
dibangunnya. . Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak
isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah
maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi
jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata
nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar
terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan
perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus
ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan
non-proliferasi global. Saya
memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata
sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan
negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya
saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah
dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir.
(tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses
ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung
jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu
merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua
pihak yang mematuhinya. Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi. Saya
percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara
kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk
semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan
demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi
ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan
apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara
lainnya. Tetapi
hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang
mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan
prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi
rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua
orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa
menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki
keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang
merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan
ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan
hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang;
pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya;
kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar
ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami
akan mendukungnya di mana saja. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan- pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi
yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil
melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan
patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat
dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih
dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya.
Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk
rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang
kekuasaan,Butir
ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat
mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus
hak-hak orang lain. (tepuk
tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan
untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang
kekuasaan. anda
harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda
harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat
toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda
dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa
ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama. Islam
memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita
menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya
menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di
mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini.
Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan
mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini
penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan
berbagai cara. Di
kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni
mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan
orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah
itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan)
Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim,
sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan
kekerasan yang tragis, khususnya di Irak. Kebebasan
beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus
senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya.
Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah
mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah
sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika
guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat. Juga
penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara
Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya,
dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan
Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme. Keyakinan
seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan
proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan
Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama
Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di
seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar
Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada
tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau
menyediakan bantuan bencana alam. Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan. Saya
tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa
pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya
seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat
bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak
diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana
kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur. Saya
perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata
merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan
Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya
Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara
itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan
aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah
sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas
penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf
untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan
lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan
cita-cita mereka. Saya
yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti
putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa
dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan
perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya
berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti
laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang
memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri. Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan. Saya
tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet
dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga
seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi
kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru,
tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara –
termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan.
Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan
ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita –
hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita,
tradisi kita dan keyakinan kita. Tetapi
saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada
kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan
Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya
mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam
Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa
kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis
depan inovasi dan pendidikan. Ini
penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan
pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak
bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan.
Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan
minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada
pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa
pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21.
(tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan
investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara
saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada
minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan
yang lebih luas. Dalam
pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak
bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga
mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat
Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan
di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam
pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan
menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas
mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.. Dalam
rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan
bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT
Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa
mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta
sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia. Dalam
bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru
untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas
penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar
sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat
keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta
mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program
yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan
hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen
baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu. Semua
ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung
dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan,
pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna
membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Isu-isu
yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya
tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita
cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam
rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana
rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka
sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai;
sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak
dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama. Saya
tahu ada banyak - Muslim dan non-Muslim - yang mempertanyakan apakah
kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api
perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak
ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai
peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa
perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu
banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap
dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya
secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap
kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki
kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia. Kita
semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah
apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah
belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha
berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada
masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan
manusia. Hal-hal
ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang
menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan
introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang
ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang
merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain
sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka.
Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah
keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat;
bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi.. Ini merupakan
keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap
berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya
pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini. Kita
memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan,
tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang
baru, sambil ingat pada apa yang tertulis. Kitab Suci Al Quran mengatakan, “Wahai manusia! Sesungguhnya
kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan
dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling kenal mengenal…” Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian.” Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.” Rakyat
seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan
visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih.
Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih
TAMAT
cinta
"Tidak dicintai orang lain memang menyedihkan, namun lebih menyedihkan lagi kalau tidak bisa mencintai orang lain." Miguel de Unamuno (1864-1936), filsuf dan penulis Spanyol
Selasa, 09 Juni 2009
beebeda...
"Agar menjadi sesuatu yang tak tergantikan, seseorang harus selalu berbeda." Coco Chanel (1883-1971), desainer terkemuka Prancis
Senin, 08 Juni 2009
pengetahuan..
"Pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan, tapi harus dicari pula dengan semangat dan disertai ketekunan." Abigail Adams Sastrawan, istri Presiden AS ke-2 John Adams (1797-1801) sekaligus ibu Presiden AS ke-6 John Quincy Adams (1744-1818)
Sabtu, 06 Juni 2009
kegagalan
"Saya bisa menerima kegagalan, tapi saya tidak bisa menerima segala hal yang tak pernah diusahakan." Michael Jordan, pebasket legendaris Amerika SerikatÃÂ
kebenaran,.....
Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan." Arthur Schopenhauer (1788-1860), filsuf Jerman
tulis dan menulis

Menulis merupakan pekerjaan yang paling susah menurut ku pasalnya ngak semua orang suka nulis, maka dari itu bagaimana pun keinginan untuk menulis trus ada dalam diriku walaupun diawali dengan sebuah tulisan yang mungkin tidak bisa dipahami oleh orang tetapi masih bisa dipahami oleh diriku sendri.
Banyak cerita-cerita kudengar nasehat-nasehat ku cerna tentang cara-cara menulis sebuah artikel atau tulisan yang bagus, semuanya pasti diawali dengan "tulislah sesuatu yang mudah bagimu",itu lah yang membuat diriku tertarik ingin menulis.
Disatu sisi aku bukanlah seorang yang suka menulis tapi disisi yang lain aku ingin bisa menulis sesuatu yang berharga dan dibaca oleh orang banyak, sulit memang untuk mencapainya, tapi apakah ada yang mustahil di dunia ini...???
keinginan tersebut muncul saat ku membaca sebuah artikel yang ditulis oleh teman ku, saat kulihat tulisannya sederhana dan mudah dicerna ,terpikir pertanyaan dipikiran ku "bagaimana bisa di menulis tulisan tersebut..?",sejak itu ku berusaha untuk membaca tulisan,puisi,artikel,buku,dan apa pun itu yang berbentuk tulisan ,sebagai cara mendalami cara untuk menulis.
ya mungkin begitulah diriku ,ku hanya manusia yang ingin mengikuti apa yang baik buat di berikan untuk orang banyak ...........sekian..
wassalamm
harmoni diri...
Saat syhadat-ku sebatas ucapan
Saat shalat-ku sebatas gerakan
Saat shaum-ku sebatas kewajiban
Saat zakat-ku sebatas keharusan
Saat haji-ku sebatas kebanggaan
Saat itu pula...
Kesia-siaan terbesar ada pada diriku
Saat Islam-ku sebatas pakaian
Saat Iman-ku sebatas ucapan
Saat Ihsan-ku sebatas pengetahuan
Saat itu pula...
Ada penipuan terbesar dalam diriku
Saat kematian dianggap hanya cerita
Saat neraka dianggap hanya berita
Saat siksa dianggap hanya kata
saat itu pula...
Kesombongan terbesar ada padaku
Saat takdir dianggap tak mungkin
Saat hidup kembali di pandang mustahil
Saat Tuhan dianggap nihil
Saat itu pula...
Kedurhakaan terbesar ada pada diriku
Bukankah aku memiliki hati..?
Bukankah aku memiliki jasmani..?
Dan bukankah aku memiliki akal budi..?
Maka harmoniskanlah semuanya, YA Robbi
Semata hanya untuk-Nya..
sukron...
Saat shalat-ku sebatas gerakan
Saat shaum-ku sebatas kewajiban
Saat zakat-ku sebatas keharusan
Saat haji-ku sebatas kebanggaan
Saat itu pula...
Kesia-siaan terbesar ada pada diriku
Saat Islam-ku sebatas pakaian
Saat Iman-ku sebatas ucapan
Saat Ihsan-ku sebatas pengetahuan
Saat itu pula...
Ada penipuan terbesar dalam diriku
Saat kematian dianggap hanya cerita
Saat neraka dianggap hanya berita
Saat siksa dianggap hanya kata
saat itu pula...
Kesombongan terbesar ada padaku
Saat takdir dianggap tak mungkin
Saat hidup kembali di pandang mustahil
Saat Tuhan dianggap nihil
Saat itu pula...
Kedurhakaan terbesar ada pada diriku
Bukankah aku memiliki hati..?
Bukankah aku memiliki jasmani..?
Dan bukankah aku memiliki akal budi..?
Maka harmoniskanlah semuanya, YA Robbi
Semata hanya untuk-Nya..
sukron...
Langganan:
Postingan (Atom)